News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Makna Filosofis Tradisi Saro-Saro serta Sajian Makanan Adat Ternate Saat Acara Pernikahan

Makna Filosofis Tradisi Saro-Saro serta Sajian Makanan Adat Ternate Saat Acara Pernikahan




Halsel - FbinewsMalut.com


Acara pernikahan imam mesjid desa mandaong kecamatan bacan selatan kabupaten halmahera selatan propinsi maluku utara Ustad Ridwan Senen, S.pd dan Faujia La Ambi, S.pd Sabtu tanggal 26 / 02 / 2022.


Saro-saro adalah suatu bentuk doa atau permintaan yang sifatnya ritual dan mengandung makna filosofis dalam tradisi kehidupan masyarakat Ternate. Joko Kaha atau. (“injak tanah”) adalah salah satu jenis bentuk tradisi orang Ternate untuk melakukan ritual menginjak tanah pertama kali. Sedangkan Makan Adat adalah sebuah acara makan bersama menurut tradisi dan tata cara adat yang yang dilakukan sejak ratusan tahun lalu.




Permintaan atau doa yang tertuang dalam bentuk pangan dan disuguhkan pada kedua mempelai ini disampaikan oleh ibu-ibu dari saudara ibu dan saudara ayah dari kedua mempelai yang dalam bahasa Ternate disebut Yaya se Goa (adat seatorang). Karena Yaya se Goa dari saudara ibu dan ayah dari kedua mempelai; pertama-tama turut bertanggung jawab sebelum dan sesudah pelaksanaan perkawinan ini dan kedua adalah awal perkenalan dan perjalinan kekeluargaan dari kedua mempelai.




Bentuk Pangan (Saro-Saro) dalam upacara perkawinan. Bahan-bahan dalam bentuk pangan lengkap dalam suatu upacara Saro-Saro sebuah perkawinan terdiri dari Ketupat, nasi kuning, lapis tidore, waji.


Terbuat dari telur ayam, gula, santan kelapa dan sari daun pandan. Pengertian filosofinya; Sirikaya yang manis rasanya lembut dan enak rasanya seperti manisnya budi pekerti yang diharapkan dari kedua mempelai.


Kobo (Ketupat Kerbau) :

Berjumlah empat buah atau tiga buah. Pengertian filosofinya; Binatang kerbau yang kuat, rajin dan setia diharapkan menjadi sifat sang suami yang memikul tanggung jawab atas bahtera rumah tangganya.


Jaha (Pali-Pali) yang terdiri dari sepuluh potong terpampang dan tersusun rapi di atas sebuah piring yang melambangkan kekuatan armada laut Ternate pada masa lampau yang selalu siaga siap tempur untuk mempertahankan kedaulatan negerinya.


Bubur Kacang Hijau (Gule-gule Tamelo) yang disajikan melambangkan kekayaan hasil pertanian masyarakat Ternate yang melimpah.


Boboto (sering juga disebut Boto-boto) sebanyak 4 buah mengandung makna bahwa pada awal mula masyarakat di pulau Ternate dibawah kuasa empat Momole, sehinga di dalam satu paket makanan adat tersebut disajikan untuk empat orang, tidak boleh lebih atau tida boleh kurang.


Sebotol Air yang disiramkan pada kaki mempelai melambangkan air, sungai dan laut di Moloku Kie Raha pun dijelajahi oleh kedua mempelai.


Pupulak yaitu beras yang diberi warna : putih, kuning, merah dan hijau yang melambangkan bermacam suku bangsa yang ada di Moloku Kie Raha, semoga menjadi sahabat dan kenalan bagi kedua mempelai.


Setelah kedua acara ini selesai bagi kedua mempelai. Ibu-ibu atau Yaya se Goa disuguhkan makanan adat yang terdiri dari jenis-jenis makanan tersebut di atas.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar